Bunker Jepang & Kerja Romusa

HISTORICALLY

Oleh T E U N G K U M A L E M I

Malam itu tahun 1983. Tanggal dan hari yang tidak diingat lagi oleh Jufri Husein, 56, warga Bireuen Meunasah Dayah, Kota Juang, Kabupaten Bireuen. Jufri bermimpi tentang ranjang emas di dalam sebuah kolam.

Rasa penasaran tak bisa disembunyikannya. Ia lalu bertanya kepada warga sekitar apakah ada sejenis bunker (orang Aceh menyebutnya: kurok-kurok) di sekitar kampung. Jufri bukanlah warga asli Bireuen Meunasah Dayah. Ia asli Pandrah. Sebuah kecamatan di ujung Barat kabupaten yang sama. Ia baru saja menetap di sana.

Informasi tentang sebuah bunker yang pernah dijadikan tempat persembunyian Jepang kemudian diperoleh Jufri. Tapi selama itu belum ada yang berani turun ke sana.

“Hewan ternak yang tersesat ke sana saja tidak pernah kembali lagi,” kata Jufri suatu sore. Pernyataan Jufri itu mengutip kata-kata orang tua kampung.

Tapi ia kemudian memberanikan diri juga untuk turun ke sana. Mengajak dua pemuda kampung. “Ada banyak kelelawar saat pertama kali kami turun ke bunker,” ujarnya. “Alhamdulillah kami selamat.”

Bunker itu sejatinya berada di pinggir jurang sebelah Barat sirkuit Cot Gon Bhan yang berada di atas bukit berkarang. Sekitar 2 kilometer (Km) dari Simpang Meunasah Blang (atau: simpang depan SPBU Reuleut).

Tapi adakah ranjang emas seperti di mimpinya? “Kami menemukan empat mortil. Tidak ada ranjang emas.”

Mortil itu kemudian coba diledakkan oleh Jufri di bawah tumpukan jerami. Ia dan dua pemuda kampung kemudian bersembunyi di balik pematang sawah untuk menghindari ledakan. Tapi api yang membakar jerami ternyata tak membuat mortil meledak. “Ternyata hulu ledak yang diduga peninggalan Jepang itu tak lagi aktif,” sebut Jufri.

Bunker itu berawal pada masa penjajahan Jepang, saat kerja Romusa diterapkan. Berdasarkan penuturan orang-orang zaman dulu, Jepang sengaja mendatangkan orang-orang luar Aceh (sebagian menyebutnya asal Jawa) untuk membuat bunker tersebut.

“Itu karena Jepang tak bisa sepenuhnya menaklukkan Aceh. Muncul kegalauan karena tak tau lagi cara bersembunyi yang aman.”

“Orang Aceh tetap tak bisa ditaklukkan, walau sekalipun seluruh pakaian dilucuti hingga harus menjadikan goni sebagai bahan pakaian,” ujarnya.

Goretan-goretan pahat jelas terlihat pada dinding-dinding bunker. Menandakan bahwa bunker tersebut bukanlah terbentuk secara alami. Melainkan hasil buatan manusia. Guratan pahatpun terlihat berbeda-beda. Ada yang sepertinya memakai pahat ukuran besar dan ada pula yang kecil.

Menurut penuturan Jufri, ada lima mulut bunker di bawah lapangan yang sekarang bernama Cot Gon Bhan itu. Tanah yang kini juga telah menjadi hak milik seorang warga Bireuen. Yang spesial, kata Jufri adalah bunker pertama.

Panjangnya ditaksir mencapai 300 meter dengan tiga lorong yang dimilikinya. Lebar lorong- lorong itu sekitar 1 meter dengan ketinggian tak mencapai 170 meter. Tim kami sampai harus sedikit membungkukkan tubuhnya saat memasuki bunker itu. Sementara tiga kamar yang berada di tiap lorong berukuran 3×3 meter.

“Ini tempat persembunyian paling aman pada masanya,” tutur Jufri.

Penuturan Jufri cukup masuk akal karena bunker itu berada di bawah bukit dengan tekstur tanah di atasnya yang berupa karang cukup keras. Hingga akar-akar pohon besar saja tak cukup kuat untuk menembusinya.

“Jadi bila ditembak dari arah mana saja oleh musuh tak mungkin bisa mencapai sasaran.”

Cerita lain ikut berkembang dalam obrolan kami sore itu di sebuah warung kopi. “Dulu sempat tersiar kabar kalau maling hewan ternak sering menyembunyikan hasil curiannya di sini.”

Kabar itupun bisa saja benar. Tim kami sempat melihat tengkorak hewan ternak di sekitar bunker. Begitu pula dengan sebuah kasur yang masih tergeletak begitu saja di dalamnya. Terapung di atas air. Kasur itu bisa dipastikan bukan peninggalan Jepang. Melainkan sebuah kasur dengan jenis spring bed tipis 3 kaki.

Cerita dan pengalaman orang tentu saja boleh berkembang soal bunker tersebut.

“Yang perlu dipahami bahwa ini adalah sejarah. Orang luar (asing) malah membuat sejarah dari tidak ada menjadi ada.” Abu Ryan Djuli, seorang pekerja seni dan budaya asal Bireuen yang ikut dalam ekspedisi besama kami hari itu, ikut menimpali.

“Pemerintah saja tentu sulit. Hanya mengandalkan kepedulian masyarakat pun susah. Disinilah peran bersama dibutuhkan. Pemerintah dan masyarakat.”

Kalimat itu seperti mewakili kegelisahannya terhadap banyak situs sejarah yang masih kurang mendapat perhatian kita bersama. (*)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.